Pages

Tampilkan postingan dengan label Info Timur Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Timur Tengah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

Lima Juta Rakyat Mesir Turun Ke Jalan


Lebih dari lima juta orang Mesir telah turun ke jalan di seluruh negeri untuk menekan Presiden Hosni Mubarak dan pemerintahannya mundur.

Aksi ini menjadi protes anti-pemerintah terbesar dalam sejarah Mesir.

Para demonstran membanjiri Tahrir, dan menyerukan kepada Presiden Hosni Mubarak untuk mundur.
Pria, wanita dan anak-anak dari semua lapisan masyarakat menghadiri aksi yang sejauh ini berjalan damai.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa jumlah pengunjuk rasa di Mesir sekitar delapan juta.

Tank dan pasukan militer telah ditempatkan di sepanjang rute perjalanan, tetapi tentara Mesir sendiri telah berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran.
Pos-pos pemeriksaan keamanan juga telah ditempatkan di seluruh Kairo.

Laporan mengatakan pemerintah telah membatasi akses ke ibu kota dengan menutup semua jalan dan transportasi umum.

Demonstrasi besar juga digelar di kota-kota lain, termasuk Alexandria dan Suez.
PBB mengatakan delapan hari kerusuhan telah diperkirakan 300 orang tewas.

Sementara itu, Amerika Serikat telah memerintahkan semua personil pemerintah non-esensial, termasuk staf kedutaan non-darurat, untuk meninggalkan Mesir. (sa/presstv)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/lima-juta-rakyat-mesir-turun-ke-jalan.htm

Mubarak, Waktu Sudah Habis!


Presiden AS, Barack Obama dilaporkan menyampaikan pesan kepada Mubarak bahwa ia tidak boleh mencalonkan kembali dalam pemilihan presiden; AS juga dilaporkan mengulurkan tangan kepada sosok oposisi, Mohamed ElBaradei. Demikian laporan Haaretz.

Seorang pejabat senior Amerika mengatakan bahwa utusan khusus telah dikirim ke Mesir oleh Presiden Barak Obama untuk menyampaikan kepada Presiden Mesir Hosni Mubarak bahwa AS menilai kepresidenannya sudah berakhir dan mendesaknya untuk mempersiapkan transisi yang tertib menuju demokrasi nyata dengan pemilu.

Pejabat itu (Selasa) mengatakan bahwa pesan tersebut telah diserahterimakan kepada Mubarak pada hari Senin oleh Frank Wisner, mantan duta besar AS untuk Mesir yang sangat disegani, yang dikirim ke Kairo oleh Obama di tengah meningkatnya protes anti-pemerintah dan tuntutan untuk turun kepada Mubarak. Pejabat itu sendiri meminta namanya untuk dirahasiakan.

Juga hari Selasa, Duta Besar AS untuk Mesir, Margaret Scobey, berbicara kepada pemenang Nobel Perdamaian sekaligus juga yang dianggap sebagai motor penggerak rakyat Mesir saat ini, Mohamed ElBaradei.

"Kedutaan kami di Kairo mempertahankan hubungan aktif untuk berbagai perwakilan masyarakat sipil dan politik di Kairo, dan misi tersebut terutama begitu intens dalam beberapa hari terakhir, kami menyampaikan dukungan kuat kami untuk sebuah transisi damai," Departemen Luar Negeri AS mengatakan dalam sebuah pernyataan. (sa/hareetz)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/mubarak-waktu-sudah-habis.htm

Rakyat Mesir: Kami Tidak Akan Pergi Sampai Mubarak Turun!


Seharusnya Presiden Mesir itu sudah gemetar. Ia menantang seperempat juta demonstran yang menuntutnya mundur segera, namun kemudian malah mengumumkan bahwa ia akan tetap bertugas sampai akhir masa jabatannya dan "mati di tanah Mesir."

Dia mengatakan dia tidak akan mencalonkan diri kembali dalam pemilihan, tapi itu sama sekali tidak cukup untuk menenangkan kemarahan publik Mesir. Sementara bentrokan meletus.

Mubarak, 82 tahun, yang telah memerintah negara selama hampir tiga dekade, demonstran dinilai hanya menawarkan sedikit usaha setelah hari-hari dramatis di mana seperempat juta rakyat Mesir melakukan demonstrasi terbesar yang belum pernah ada sebelumnya di negara itu.

Tawaran setengah-setengah Mubarak itu jelas malah bisa jadi akan memicu rasa frustrasi dan kemarahan di kalangan demonstran, yang telah menjalankan aksi damai dalam beberapa hari terakhir. Rakyat Mesir sendiri sudah berketetapan bahwa bahwa mereka tidak akan menghentikan aksinya sampai Mubarak mundur.

Pidato Mubarak sendiri diolok-olok oleh rakyat Mesir yang berkumpul di Tahrir Square. Menonton pidatonya pada TV raksasa, pengunjuk rasa mencemooh dan melambaikan sepatu mereka di atas gambar kepala Mubarak sebagai sebuah tanda penghinaan. "Mundur, mundur, mundur! Kami tidak akan pergi sampai dia mundur!" teriak mereka sambil dinyanyikan dengan keras membahana. Satu orang berteriak, "Dia tidak akan mengatakan hal itu, dia tidak akan mengatakannya." (sa/abcnews)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/rakyat-mesir-kami-tidak-akan-pergi-sampai-mubarak-turun.htm

Lima Tuntutan Rakyat Mesir


Berikut adalah tuntutan para demonstran anti-pemerintah Mesir.

1. Gerakan rakyat Mesir dimulai dengan seruan di Internet; "martabat kebebasan dan demokrasi."

2. Pengusiran Presiden Hosni Mubarak dan tidak ada pengalihan kekuasaan kepada anaknya, Gamal.

3. Perwakilan rakyat akan bernegosiasi dengan militer hanya setelah Mubarak angkat kaki. Mereka menolak perundingan dengan wakil presiden baru, Omar Suleiman, mantan kepala intelijen. Namun, beberapa pihak mungkin bersedia untuk berbicara dengan Sulaiman jika Mubarak mundur. Suleiman dianggap banyak tercemar karena ia diangkat oleh Mubarak.

4. Rakyat menginginkan konstitusi ditulis ulang untuk menetapkan batasan masa jabatan presiden.

5. Rakyat kemudian ingin pemilu yang bebas dan adil bagi seorang presiden dan parlemen baru. (sa/ap)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/lima-tuntutan-rakyat-mesir.htm

Bagaimana Mubarak Akan Mundur?


Seharusnya, Hosni Mubarak hadir dalam Cairo Book Fair pekan ini. Presiden Mesir itu kemudian malah sibuk memilih kabinet. Pidatonya, kemarin waktu setempat, setelah 30 tahun berkuasa, sepertinya tidak akan menghasilkan apapun buat pengunjuk rasa di jalanan.

Mubarak tertawa bahwa aksi ini menjadi "bagian dari plot yang lebih besar untuk mengguncang stabilitas dan menghancurkan legitimasi "sistem politik Mesir. "Kami tidak akan mundur dalam reformasi," ujarnya. Rakyat ingin dia pergi, bukan hanya sekadar mundur, dan tidak akan pernah puas sampai dia benar-benar melakukannya, tapi Mubarak tidak pernah mendengarkan.

Sementara itu, apa yang dipersiapkan oleh Amerika Serikat ? Meskipun klaim Hillary Clinton tahun lalu; "saya benar-benar mempertimbangkan Presiden dan Ibu Mubarak menjadi teman keluarga saya," dan meskipun seruan kemarin kepada Mubarak untuk "terlibat langsung" dengan rakyat Mesir, ada tanda lagi bahwa Amerika Serikat sebenarnya mencoba untuk menjaga tiran berkuasa.

Juru bicara Gedung Putih mengatakan bahwa AS bisa saja memotong bantuannya terhadap Mesir bahkan mungkin dimaksudkan untuk membantu Mubarak dalam perjalanannya sekarag. Karena bantuan tersebut sebagian besar militer, yang pasti akan membuat tentara Mesir untuk mempertimbangkan posisi mereka.
Tampaknya, berdasarkan laporan sejauh ini, AS lebih berfokus pada situasi pasca-Mubarak daripada mencoba untuk menyelamatkannya.

Tidak seperti Tunisia, Mesir adalah kepentingan strategis untuk Amerika Serikat. Meskipun secara resmi mempromosikan kebebasan dan demokrasi, AS menginginkan pemerintah Mesir yang dapat diandalkan untuk mempertahankan perjanjian damai dengan Israel, untuk menjaga kanal Suez tetap terbuka dan menjalin kerja sama internasional melawan terorisme.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana Mubarak, yang benar-benar keras kepala padahal usianya sudah 82 tahun, bisa dibujuk untuk meninggalkan kekuasaannya. Setelah masyarakat Mesir memberikan penolakan mereka terhadap pemerintahan baru, dalam hal ini yang paling strategis analisis yang muncul adalah militer.
Jika demikian, hal ini yang akan menuntun tentara demi "memulihkan ketertiban," jika tidak benar-benar menjalankan negara. Berbicara secara konstitusional, (Pasal 84), kekuasaan terakhir harus jatuh ke kursi Majelis Rakyat, dengan pemilihan presiden baru yang akan diadakan dalam waktu 60 hari. (sa/albab)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/bagaimana-mubarak-akan-mundur.htm

Tentara Mesir Akan Cegah Negara Islam


Tentara Mesir yang didukung AS akan mencegah gerakan Islam mengendalikan pemerintah negara itu, demikian penjelasan seorang senator Amerika Selasa kemarin.
Sang senator yang berasal dari Republik, Lindsey Graham menekankan bahwa Amerika tidak harus "malu" mendukung militer.

"Setiap orang Amerika harus sangat menghargai fakta bahwa selama bertahun-tahun kami telah memberikan bantuan kepada tentara Mesir dalam hal peralatan dan pelatihan, karena tentara itu adalah binaan kami, untuk membuat Mesir tidak menjadi negara yang radikal." repet Graham.

Ketika ditanya apakah tentara akan mengambil alih Mesir jika rakyat memilih pemerintahan Islam, Graham menjawab: "Keyakinan saya bahwa tentara Mesir akan melindungi rakyat Mesir dalam menjadi negara Islam radikal." (sa/aby)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/tentara-mesir-akan-cegah-negara-islam.htm

Selasa, 01 Februari 2011

Kagum pada Ajaran Islam Soal Moral, Profesor Yahudi Bersyahadat

Sebut saja namanya Khadija, nama yang digunakannya setelah masuk Islam. Ia seorang profesor keturunan Yahudi yang menemukan cahaya Islam setelah menyaksikan kematian seorang sutradara bernama Tony Richardson akibat penyakit AIDS. Khadija mengagumi Richardson sebagai sutradara panggung drama yang profesional, brilian dan diakui kalangan seniman internasional.

Kehidupan Richardson sebagai homoseks menularkannya penyakit AIDS yang mematikan. Dari situlah Khadija mulai memikirkan gaya hidup masyarakat Barat dan masyarakat Amerika terutama dalam masalah moralitas. Khadija pun mulai melirik ajaran Islam.

Khadija memulainya dengan mempelajari sejarah Islam. Sebagai seorang Yahudi, ia masih mengingat sejarah nenek moyangnya, Yahudi Spanyol yang hidup di tengah masyarakat Muslim dan terusir pada masa inkuisisi pada tahun 1942. Khadija mempelajari bagaimana kekhalifahan Turki Ustmani memperlakukan para pengungsi Yahudi dengan cara yang manusiawi pada masa pengusiran orang-orang Yahudi dari daratan Eropa.

"Allah membimbing saya dalam belajar dan saya belajar Islam dari banyak tokoh seperti Imam Siddiqi dari South Bay Islamic Association, Hussein Rahima dan kakak angkat saya, Maria Abidin, seorang muslim orang Amerika asli dan bekerja sebagai penulis di majalah SBIA, IQRA," kisah Khadija mengawali ceritanya sebelum menjadi seorang muslim.

Saat melakukan riset tentang Islam, Khadija mewawancarai seorang pemilik toko daging halal di sebuah distrik di San Francisco. Di toko itu ia bertemu dengan seorang pembeli, perempuan berjilbab yang kemudian sangat mempengaruhinya dalam memahami ajaran Islam. Khadija terkesan dengan perilaku perempuan itu yang lembut dan ramah, apalagi perempuan berjilbab itu ternyata menguasai empat bahasa asing.

"Kecerdasannya, membuat saya merasa terbebas dari sikap arogan dan memberikan kesan mendalam di masa-masa awal saya mempelajari bagaimana Islam bisa mempengaruhi perilaku manusia," ujar Khadija.
"Riset yang saya lakukan membuat saya tahu lebih banyak tentang Islam dari sekedar sekumpulan fakta, bahwa Islam adalah agama yang hidup. Saya belajar bagaimana kaum Muslimin memperlakukan diri mereka sendiri dengan penuh martabat dan kebaikan sehingga bisa mengangkat mereka dari kekerasan dan perbudakan di Amerika ..."

"Saya belajar bahwa lelaki dan perempuan Muslim bisa saling mendukung keberadaan masing-masing, tanpa harus merusak keduanya secara verbal maupun fisik. Saya juga belajar bahwa busana yang pantas menunjukkan semangat spiritualitas dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia," papar Khadija.

Kondisi itu sangat berbeda dengan apa yang dialami Khadija selama ini, sebagai perempuan yang hidup di tengah budaya masyarakat Amerika. Seperti perempuan Amerika pada umumnya, ia ibarat hidup di tengah perbudakan seksual. Sejak usia dini, Khadija belajar bahwa masyarakat AS pada umumnya menilai manusia semata-mata dari penampilan luarnya saja sehingga banyak remaja, baik perempuan maupun laki-laki yang putus asa karena merasa tidak diterima oleh teman sebayanya.

Setelah mengetahui lebih banyak tentang Islam dan bergaul dengan beberapa muslim Amerika, Khadija makin mencintai dan menghormati Islam. "Saya mendukung dan mengagumi Islam karena Islam memberikan hak yang sama dalam masalah pendidikan untuk laki-laki dan perempuan, menghormati hak laki-laki dan perempuan dalam masyarakat dan ajaran tentang cara berbusana yang pantas serta aturan Islam tentang perkawinan," tukas Khadija.

"Islam mengajarkan untuk menghargadi diri kita sendiri sebagai makhluk ciptaanNya yang dianugerahi kemampuan untuk bertanggung jawab dalam hubungan kita dengan orang lain. Lewat salat dan zakat, serta komitmen keimanan dan pendidikan, jika kita mengikuti jalan Islam, kita memiliki kesempatan untuk mendidik anak-anak yang akan terbebas dari ancaman kekerasan dan eksploitasi," sambungnya.

Dalam perjalanannya memeluk Islam, Khadija aktif di organisasi AMILA (American Muslims Intent on Learning and Activism) dan ikut mengelola situs organisasi itu. Khadija dengan jujur mengakui bahwa komunitas Muslim adalah komunitas yang mengagumkan. "Islam memberi petunjuk pada kita agar terhindar dari api neraka," kata Khadija.

Khadija pun bertekad bulat untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslim. "Sang Pencipta dikenal dengan banyak nama. Rahmat-Nya kita rasakan dan kehadiran-Nya dimanifestasikan dengan cinta, toleransi dan kasih sayang yang hadir di tengah kehidupan masyarakat," tandas Khadija. (ln/oi)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/kagum-pada-ajaran-islam-soal-moral-profesor-yahudi-bersyahadat.htm

Nathan Brown: Tidak Ada Yang Perlu Ditakutkan Dari Ikhwan Mesir


Jika Anda menonton Fox pada hari Senin, Anda akan dimaafkan bila berpikir bahwa Mesir berada di ambang pengambilalihan oleh teroris. Anchor Steve Doocy menyebut bahwa Ikhwan—opisisi terbesar Mesir dan juga gerakan dakwah di seluruh dunia—sebagai "godfather al-Qaida." Tapi benarkah begitu?

Beberapa calon presiden dari Partai Republik menyebutkan kekhawatiran mereka tentang Ikhwan sebagai alasan bagi Amerika Serikat untuk terus mendukung rezim otoriter Hosni Mubarak.
Nathan Brown, seorang profesor ilmu politik di George Washington University dan direktur Lembaga Studi Timur Tengah, yang telah banyak menulis tentang Ikhwan, melontarkan berbagai pikirannya, terutama terkait dengan perkembangan Mesir sekarang ini. Berikut ini transkrip percakapannya. 

Dapatkah Anda memberikan ikhtisar tentang sejarah kelompok dan dari mana asalnya?

Kelompok ini didirikan pada tahun 1928. Ini adalah sebuah gerakan luas yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman agama di kalangan orang Mesir, melakukan perbuatan baik, dan membuat masyarakat lebih Islami. Secara bertahap Ikhwan mendekatkan lebih dan lebih ke politik. Pada tahun 1940, mereka melakukan semacam bentuk sayap paramiliter untuk melawan pasukan Inggris yang masih berada di Mesir dan sukarelawannya berperang untuk menentang berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Kemudian pada tahun 1950, dan 1960-an ketika rezim Gamal Nasser mencoba untuk meng
hancurkan mereka, beberapa anggota Ikhwan mengembangkan gagasan yang pada dasarnya berusaha melakukan pemberontakan bersenjata melawan pemerintah. Beberapa pemimpin dieksekusi dan sebagainya. Pada 1970-an, mereka diizinkan untuk muncul kembali, tetapi mereka tidak pernah diberi status hukum. Sejak saat itu mereka terus menghadapi kekerasan. Mereka sudah mengatakan bahwa mereka bersedia bekerja dalam aturan permainan, bahwa mereka adalah gerakan reformasi, bukan revolusioner. Mereka telah menemukan berbagai cara untuk memasukan calonnya di parlemen dan untuk mengambil peran aktif dalam kehidupan publik Mesir.

Apa peran mereka sebenarnya di Mesir?

Label resmi mereka adalah "Society of Muslim Brothers", itu bukanlah "partai politik Ikhwan" atau sesuatu yang seperti itu. Mereka mengklaim bahwa mereka sudah mendapat agenda reformasi yang luas; sosial, agama, politik, pendidikan dan sebagainya. Dalam dekade terakhir mereka membuat langkah nyata di bidang politik. Pada pemilu 2005, mereka mendapat seperlima dari kursi di parlemen.

Setelah titik itu, mereka ditangkap, bisnisnya ditutup. Organisasi ini bereaksi dengan mengatakan, "Kami akan mengurus organisasi kami di urutan pertama. Kami berada di bidang ini untuk tujuan jangka panjang, kami berpikir untuk dekade dan generasi, bukan dalam hal manuver politik untuk pemilu berikutnya."

Gerakan ini dipimpin oleh orang-orang yang sangat berhati-hati dan benar-benar mencoba untuk melestarikan organisasi. Mereka mungkin kurang terampil dalam politik, seperti membuat aliansi dan berbicara kepada pers.

Apakah mereka ini kelompok radikal?

Well, yang pasti mereka menjalankan Islam dengan serius. Namun dalam banyak hal, mereka ini gerakan yang sangat konservatif. Pemimpin tertinggi Ikhwan saat ini adalah seorang profesor kedokteran hewan. Dia seorang pria pemalu. Tiap kali ada orang mereka berbicara sedikit terlalu keras dan tidak sabaran, mereka selalu diberitahu untuk menenangkan diri atau untuk meninggalkan gerakan.

Agenda mereka adalah untuk membuat Mesir lebih baik. Dan konsepsi mereka tentang apa yang baik dan buruk berdasarkan agama. Jadi itu berarti meningkatkan ketaatan agama, pengetahuan agama. Mereka tidak ingin selalu benar-benar mengubah Mesir menjadi sebuah sistem hukum tradisional Islam. Tapi kalau parlemen membuat hukum, mereka ingin agar hukum itu sesuai dengan hukum Islam.

Banyak program mereka hanya reformasi yang sifatnya standar; independensi peradilan, pengentasan korupsi, atau melindungi lingkungan. Politik mereka selama 10 tahun terakhir, adalah bahasa yang sangat umum yang mengambil warna Islam di beberapa daerah.

Seseorang di Fox News mengatakan bahwa Ikhwan adalah "godfather al-Qaida." Bagaimana menurut Anda? 

Anda tidak harus menonton Fox untuk belajar tentang Ikhwan. Kekerasan pada dasarnya ditolak oleh Ikhwan. Bahkan, al-Qaida secara terbuka dan konsisten menyerang Ikhwan bahwa Ikhwan sudah habis. (sa/saloon)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/bincang/nathan-brown-tidak-ada-yang-perlu-ditakutkan-dari-ikhwan-mesir.htm

Reformasi Mesir; Akankah Ikhwan Mengambil Alih?


"Piers Morgan Tonight" di CNN terus meliput dari detik ke detik di Mesir. Anderson Cooper kemudian mewawancarai pemimpin Ikhwan, Mohamed El Baradei dari Kairo. Mesir telah begitu dramatis, ribuan orang turun ke jalan menuntut Presiden Hosni Mubarak untuk turun dari jabatannya setelah 30 tahun berkuasa.

Dan sementara sebagian pihak terinspirasi oleh peran keagamaan di dakan aksi protes itu, ada kekhawatiran bahwa Ikhwan saat ini tengah menunggu kesempatan untuk mengambil alih pemerintahan. Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris pada hari Senin memperingatkan, "Kalian tidak hanya memiliki pemerintah dan gerakan bagi demokrasi, kalian juga memiliki orang lain, terutama Ikhwan, yang akan mengambil arah yang berbeda. Kita perlu cemas untuk memenuhi aspirasi rakyat."


Mantan diplomat Israel, Eli Avidar berpendapat bahwa pemilihan umum telah membuat Hamas berkuasa di Gaza. "Presiden (George W.) Bush dan (Menteri Luar Negeri) Condoleeza Rice menekan Negara Israel untuk memungkinkan pemilihan demokratis dalam Otoritas Palestina dan apa yang terjadi adalah bahwa Hamas mengambil alih dan ini adalah pemilihan demokratis pertama dan terakhir," katanya—tentu saja mengacu pada apa yang mungkin terjadi di Mesir saat ini. Dan Avidar jelas takut akan potensi Ikhwan.

"Jika mereka mengambil kepemimpinan lewat pemilu demokratis, saya percaya bahwa demokrasi tidak akan pernah ada di Mesir karena faktanya adalah, jika mereka menguasai kekuasaan, mereka tidak akan meninggalkannya," katanya.

Tapi analis Mustafa Abulhimal dari Mesir mengatakan ini bukan revolusi Ikhwan. "Ikhwan tidak berada di belakang protes semua ini," katanya. "Ikhwan tidak memberikan inspirasi protes. Ikhwan merupakan minoritas kecil di antara mereka yang berada di jalanan saat ini," katanya.


Di Iran 30 tahun yang lalu, revolusi meletus dan awalnya didukung oleh kelompok-kelompok yang berbeda, termasuk Komunis dan demokrat sekuler. Tapi situasi di Mesir saat ini tidak sama, Abulhimal berpendapat.

"Revolusi Iran diambil alih oleh seorang karismatik buat (rakyat Iran) Ayatollah Khomeini. Sedangkan di Mesir, tokoh-tokoh karismatik yang kami miliki di jalanan hari ini atau kemarin adalah tokoh-tokoh sekuler seperti Mohamed El Baradei atau Ayman Nour," tambah Abulhimal, seraya menyebutkan dua nama yang sekarang banyak beredar di Mesir.

El Baradei sendiri mengatakan dia bersedia untuk bekerja sama dengan Ikhwan, dan menyangkal bahwa mereka ingin meniru Khomeini Iran. "Ikhwan tidak ada hubungannya dengan model Iran, tidak ada hubungannya dengan ekstremisme seperti yang kita lihat di Afghanistan dan tempat-tempat lain. Ikhwan itu suatu kelompok keagamaan yang konservatif. Mereka merupakan minoritas di Mesir," katanya kepada CNN. "Saya telah mengulurkan tangan kepada mereka. Kita perlu untuk menyertakan mereka. Untuk memasukkan mereka. Mereka adalah bagian dari masyarakat Mesir, sebanyak pihak Marxis di sini," katanya.


Ia menolak gagasan bahwa gerakan Islam hanya akan melemahkan Mesir. "Ini adalah mitos yang dijual oleh rezim Mubarak—bahwa itu baik bagi kita, gerakan Islam adalah diktator kejam, atau ... sejenis al Qaeda," katanya.

Sedangkan Abulhimal yakin bahwa Mesir tidak akan membiarkan Ikhwan merebut kekuasaan—paling tidak karena militer akan menghalangi jalannya.

"Baik masyarakat, maupun para pemimpin sekuler tidak akan memberi jalan kepada Ikhwan, dan lebih penting lagi tentara tidak akan membiarkannya pula," katanya. "Jika militer mengatakan, ‘Kami akan mendukung orang-orang di jalan dan kami akan memiliki kesepakatan dengan Presiden Mubarak untuk menjalani transisi yang tertib,’ dan Amerika mengatakan kemarin, ‘Ini tidak termasuk Ikhwan!’" (sa/cnn)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/reformasi-mesir-akankah-ikhwan-mengambil-alih.htm

Ketakutan Barat Akan Peran Ikhwan dalam "Kerusuhan" Mesir

Sementara para analis bertanya siapa atau apa yang ada di balik unjuk rasa berkelanjutan di Mesir, satu kelompok sekarang mencari legitimasi politik.
Secara teknis meski dilarang di bawah konstitusi Mesir yang melarang partai-partai berbasis agama, Ikhwanul Muslimin sekarang malah memberikan dukungan di belakang Muhammad el Baradei sebagai pemimpin oposisi.

Namun banyak ketakutan dan kekhawatiran bahwa jika Mesir Presiden Hosni Mubarak turun, penggantian riil akan diambil alih oleh Ikhwanul Muslimin atau kelompok fundamentalis Islam. El Baradei sendiri bersikeras dalam sebuah talk show Minggu lalu bahwa kekhawatiran tersebut tidak beralasan.
"Ini adalah total palsu bahwa Ikhwanul Muslimin adalah kelompok agama konservatif," kata El Baradei dalam acara "This Week" ABC. "Mereka tidak menggunakan cara ekstrimis Dan mereka tidak mungkin menggunakan kekerasan."

Namun para pengkritik menunjukkan bahwa Ikhwan, yang didirikan di Mesir pada tahun 1920, adalah identik dengan Islam politik yang mendukung penggunaan hukum Islam yang dikenal sebagai Syariah.
"Sekarang Republik Arab Mesir tidak menerapkan hukum Islam secara keseluruhan," kata Rob Spencer, pimpinan Jihad Watch kepada FOX News. "Dan Ikhwanul Muslim ingin mengubah itu."

Di antara 'lulusan' Ikhwan adalah: orang nomor dua dalam kepemimpinan Al Qaidah, dokter Mesir Ayman al-Zawahiri yang dipenjara selama tiga tahun atas tuduhan melakukan gerakan bersenjata setelah Anwar Sadat terbunuh pada tahun 1981, kemudian gerakan Hamas, jaringan militan di balik serangan bom bunuh diri dan serangan roket ke Israel, dan Gerakan Jihad Islam di Palestina, yang tujuannya adalah penghancuran Israel.

Walid Phares, yang adalah seorang analis terorisme untuk FOX News, telah mempelajari Ikhwanul Muslimin. Phares mengatakan sejarah menunjukkan bahwa kelompok tersebut tidak sekuler dan tidak moderat.
"Ikhwanul Muslimin adalah induk untuk ideologi jihad dan pemikiran. Dan karena itu kami dapat mengatakan hari ini Al-Qaidah, dan jihadis lainnya, semuanya berakar dari Ikhwanul Muslimin. "

Analis lain, termasuk Michael O'Hanlon dari Brookings Institution berpendapat bahwa bukan tidak mungkin bagi Amerika Serikat untuk menolak berurusan dengan Ikhwan sebagai salah satu pemain di Mesir.

Para analis setuju bahwa demonstrasi telah menciptakan sebuah celah pembuka untuk Ikhwanul Muslimin menetapkan diri mereka sebagai kelompok oposisi yang layak diperhitungkan, tetapi dampaknya akan mencapai luar Mesir dengan konsekuensi bagi Israel, Amerika Serikat dan sekutunya.(fq/fn)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ketakutan-barat-akan-peran-ikhwan-dalam-kerusuhan-mesir.htm

Senin, 31 Januari 2011

Jenderal Koneksi Israel Menggantikan Mubarak?

Di jalan-jalan di Kairo pada hari Sabtu, teriakan dan yel-yel para demonstran sangat jelas, ketika mereka menanggapi pidato Presiden Hosni Mubarak. Mubarak menyatakan bahwa ia akan mengganti pemerintahannya - dan ini hanya taktik Mubarak yang ingin menyalamatkan dirinya dari kemarahan rakyat. Semuanya akan sia-sia.

Banyak taktik yang digunakan Mubarak, yang sebenarnya hanya membuang-buang waktu, dan ingin mengelebaui rakyat, saat menghadapi kemarahan yang meluas di seluruh Mesir, Jum'at lalu. Di jalan-jalan di seluruh Mesir, rakyat meneriakkan yel-yel, "Rakyat ingin rezim Mubarak jatuh", suara yel-yel mereka. Pada hari Sabtu, suara rakyat di jalanan sangat jelas bahwa mereka hanya meneriakan, "Kami hanya ingin Fir'aun itu segera pergi dari Mesir", di Tahrir Square. Mereka tidak membutuhkan reshufle (pergantian) kabinet.

"Semua orang tahu bahwa Mubarak tidak membuat keputusan", kata seorang wanita muda di Cairene yang tidak mau menyebutkan namanya. "Mengapa dia berpikir rakyat masih menginginkan dia?", kata Mustafa, 47, seorang guru di Kairo. "Apa dia pikir dia firaun", tambahnya.

"Rakyat hanya ingin dia pergi," kata Mahmoud, seorang pemuda mengambil gambar sebuah mal yang terbakar di tepi sungai Nil, menjarah pada hari Jumat malam. "Dan sepertinya kita hampir sampai.. Saya tidak tahu bagaimana, tetapi kita bisa merasakannya, kekuasaan Mubarak akan berakhir", ujarnya

Sabtu, Mubarak mengambil sumpah Omar Suleiman (76), kepala intelijen Mesir, sebagai wakil presiden. Keputusan ini sudah dapat diprediksi sebelumnya. Ini merupakan hasil negosiasi antara kepentingan AS dan Israel. Di mana kedua negara itu ingin Mubarak tetap melanjutkan misinya bagi kepentingan Israel dan AS. Khususnya menjaga stabilitas di kawasan Timur Tengah, dan mengeliminasi setiap ancaman bagi kedua negara 'induk semangnya', yaitu Israel dan AS.

Sebelumnya, Dubes AS di Cairo, Margareth Scoby, secara intensif melakukan dialog di berbagai kalangan, termasuk pihak fihak-fihak yang mewakili kepetingan Israel. Ini memang sangat aneh, karena selama 30 tahun pemerintahannya, Presiden Mesir tidak pernah memiliki wakil presiden, maka spekulasi bahwa anaknya Gamal sedang dipersiapkan sebagai ahli waris dinasti itu dengan sendirinya tidak terjadi. Dan, Omar Sulaimen memiliki misi khusus yang akan mengantarkan proses transisi politik di Mesir, yang memungkinkan dirinya menggantikan Mubarak.

Seperti kabar yang beredar, spekulasi merebak bahwa kepala intelijen Mesir, yang akan menjadi presiden bayangan, yang memiliki dukungan dari militer Mesir masih populer, adalah kaki tangan AS dan Israel, yang akan mengelola transisi perubahan, dan menjaga komitmen internasional Mesir, khususnya terhadap kepentingan Israel yang menyangkut keamanan negara Yahudi, yang mendapatkan dukungan AS.
Omar Sulaiman, yang menjadi Kepala Intelijen Mesir, sudah berkarya di bidangnya dalam kurun waktu yang panjang, hampir 20 tahun, yang sebelumnya seorang perwira kavaleri. Omar memiliki pengalaman diplomasi internasional, khususnya menjalankan misi khusus Israel dan AS, yang bertujuan untuk mencegah Hamas, agar tidak membahayakan keamanan Israel.

Omar terus menekan Hamas agar mau menerima Otoritas Palestina (PA) dan Mahmud Abbas, dalam sebuah pemerintahan koalisi. Israel dan AS tahu, misi yang harus dijalankan oleh Omar itu hanyalah untuk 'mengerdilkan' kekuatan Hamas. Omar juga menjalankan misi Israel, menekan Hamas untuk melepaskan Kopral Gilad Shalid, yang diculik, dan sampai sekarang belum dibebaskan.

Omar Sulaimen, sebelum invasi militer Israel ke Gaza berlangsung, beberapa kali melakukan kunjungan ke Yerusalem, bertemu dengan Perdana Menteri Olmert dan Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak.

Wikileaks yang membuka kabel diplomatik AS baru-baru ini yang menyebutkan Suleiman sebagai pengganti potensial untuk Mubarak. Informasi Wikileaks itu menggambarkan kepala intelijen Mesir, Omar Sulaiman sebagai "kepercayaan' Mubarak," mengutip kabel AS bahwa Sulaeman dengan "latar belakang militer", yang sudah berkuasa dalam beberapa dekade bersama Mubarak.

Mubarak bukan hanya menunjuk kepala intelijen Mesir, tetapi juga mengangkat panglima angkatan udara Mesir, yang sebelumnya menjadi menteri perhubungan dan transportai udara, diangkat menjadi perdana menteri yang baru. Ahmed Atief yang dekat dengan kalangan militer, diharapkan dapat mengendalikan militer Mesir, agar tetap berpihak kepada Mubarak, di hari-hari akhir kekuasaannya.

Tetapi, hari Minggu, aksi kembali pecah di seantero Mesir, yang pada pagi harinya tampak tenang, di mana sebelumnya telah terjadi konfrontasi habis-habisan antara rakyat Mesir melawan polisi anti huru-hara, dan aparat militer, pasa hari Jum'at. Rakyat kembali melakukan aksi, di tengah-tengah tindakan Mubarak, yang ingin mengacaukan akski para demonstrans dengan menggerakan para 'kriminal' melakukan penjarahan. Ini semuanya adalah taktitk busuk Mubarak.

Para demonstran menyatakan, "Saya rasa ini adalah akhir dari Mubarak," teriak mereka. Sekrang telah santer terdengar adanya desas-desus telah terjadi terjadi perpecahan antara Mubarak dan Angkatan Darat, dan memilih mendukung para pengunjuk rasa. "Saya pikir dia (Mubarak) akan hilang dalam beberapa jam," katanya, seorang bersorak di di Tahrir Square.

"Kami tidak akan pergi sampai Mubarak didorong keluar seperti Ben Ali [digulingkan Presiden Tunisia]", teriak mereka. "Ini adalah sejarah jam, menit, bukan hari. Semuanya terjadi begitu cepat. Ini adalah awal dari sebuah era baru bagi Mesir, yang kita telah menunggu selama 30 tahun Kita sekarang. Bisa menyebutnya revolusi", galau mereka.

Saat di tanya oleh CNN tentang flash sticker di CNN, yang mengatakan bahwa Raja Arab Saudi, Abdullah telah menjanjikan dukungan untuk Mubarak?

Seorang demonstran tertawa: "Semua rezim-rezim Arab, mereka takut. Mereka tahu bahwa jika Mubarak jatuh, mereka akan mendapat giliran berikutnya, Tunis memberi inspirasi kami, tapi Mesir adalah awal dari akhir untuk rezim-rezim diktator di dunia Arab... Mereka semua takut sekarang. " mn/tm

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/jenderal-koneksi-israel-menggantikan-mubarak.htm

Menteri Pertahanan Mesir Mulai Ancam Para Demonstran

Menteri Pertahanan Mesir Muhammad Hussein Thanthawi memperingatkan para demonstran anti-pemerintah terhadappelanggaran jam malam pada saat warga Mesir masihtetap berada di luar.

Pengunjuk rasa anti-pemerintah mengalir di jalan-jalan pada hari keenam demonstrasi pada hari Minggu kemarin (30/1) meskipun adanya peringatan dan kehadiran tentara di kota.

Pasukan bersenjata telah mengancam akan melakukan tindakan keras terhadap siapapun yang menolak untuk mematuhi jam malam yang diberlakukan di kota-kota besar. Jam malam itu kini telah diperpanjang dan akan dimulai pada pukul 3 sore hingga jam 8 pagi waktu setempat.

Presiden Mesir Hosni Mubarak dilaporkan juga telah mengunjungi pusat operasi militer tentara untuk bertemu dengan komandan militer dan tentara di markas mereka.

Setelah kunjungan tersebut, tentara telah menerima perintah untuk menembak pengunjuk rasa dalam upaya untuk melindungi rezim Mubarak, menurut website Ikhwanul Muslimin.

Militer dan helikopter serta jet tempur F-16 jet buatan ASterbang rendah pada hari Minggu kemarin di atas Tahrir Square, yang merupakan salah satupusat pemberontakan.(fq/prtv)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/militer-mesir-mulai-ancam-para-demonstran.htm

TV Rusia Melaporkan Demonstran Mesir Mencoba Serbu Kedubes Israel

Demonstran Mesir pada hari Minggu siang kemarin (30/1) mulai mencoba menyerbu kedutaan besar Israel di pusat kota Kairo, saluran TV Russia Today melaporkan.

Namun siaran TV asal Rusia ini tidak memasukkan rincian lainnya atas penyerbuan kedutaan besar Israel tersebut.

Para staf kedutaan Israel dan keluarga mereka dilaporkan telah meninggalkan Kairo Jumat lalu setelah salah satu kelompok massa Mesir mendekati gedung mereka di dekat Universitas Kairo di Giza.

Sumber media mengatakan bahwa sebuah helikopter telah membawa staf diplomat Israel ke sebuah pangkalan udara di mana jet pribadi kemudian menerbangkan mereka ke Tel Aviv. (fq/pic)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/tv-rusia-melaporkan-demonstran-mesir-mencoba-serbu-kedubes-israel.htm

Jumat, 28 Januari 2011

Tokoh Reformasi Mesir akan Ikut dalam Demonstrasi Anti-Pemerintah

Seorang pejuang reformasi terkemuka Mesir akan kembali ke negaranya, sementara para aktivis anti-pemerintah merencanakan demonstrasi besar-besaran baru di ibukota, Kairo.

Mohamed ElBaradei, mantan Kepala Badan Nuklir PBB (IAEA), diperkirakan akan kembali ke Mesir pada hari Kamis untuk bergabung dengan para demonstran menentang kekuasaan 30 tahun Presiden Hosni Mubarak.

Sementara itu, para aktivis menggunakan situs-situs Internet media sosial untuk menyerukan diadakannya demonstrasi besar hari Jumat di Kairo.

Pada hari Rabu, polisi anti huru-hara Mesir terlibat bentrokan dengan ribuan demonstran untuk hari kedua, dengan menembakkan peluru karet dan menggunakan gas air mata dan pentungan terhadap demonstran yang tidak memperdulikan larangan berdemonstrasi dari pemerintah.

Sekurang-kurangnya empat orang telah tewas dalam demonstrasi yang telah berlangsung selama dua hari.

Sumber : http://www.voanews.com/indonesian/news/middle-east/ElBaradei-Akan-Turut-Dalam-Demonstrasi-di-Mesir--114708214.html

Bom Mobil Tewaskan 48 Orang dalam Upacara Pemakaman di Baghdad

Para pejabat Irak mengatakan, sebuah bom mobil meledak dalam sebuah upacara pemakaman di Baghdad, menewaskan sedikitnya 48 orang. Serangan di daerah warga Syiah di ibukota itu melukai paling sedikit 121 lainnya.

Ledakan itu adalah yang paling mematikan dalam serangkaian pemboman yang menghantam ibukota hari Kamis.

Di distrik Karradah, Baghdad, para pejabat mengatakan sebuah bom pinggir jalan menewaskan satu orang dan melukai paling sedikit lima lainnya, termasuk tiga polisi.

Sebuah pemboman pinggir jalan lainnya di kawasan Bab al-Maudham, Baghdad, menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya.

Irak telah mengalami peningkatan kekerasan dalam dua pekan ini, dengan serangkaian pemboman yang menarget para peziarah Syiah dan pasukan keamanan.

Sumber : http://www.voanews.com/indonesian/news/middle-east/Bom-Mobil-Tewaskan-48-Orang-dalam-Upacara-Pemakaman-di-Baghdad-114753924.html

Analis: Revolusi Mesir Sulit Diprediksi

Revolusi Tunisia mungkin memiliki efek besar pada pemberontakan di Mesir, tapi revolusi selalu sulit diprediksi, kata seorang analis.

Analis kebijakan Afrika, Nii Akuetteh mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Press TV mengatakan bahwa Mesir "telah dan tetap menjadi sekutu yang sangat setia untuk Amerika Serikat.

"Salah satu alasan mengapa orang berpikir bahwa efek besar dari Tunisia mungkin tidak intens di Mesir adalah bahwa Mesir adalah negara yang jauh lebih besar dan lebih penting lagi Mesir telah menikmati dukungan yang lebih kuat dari Amerika Serikat," katanya.

"Maksudku, sebelumnya Presiden AS, George W Bush, mengatakan bahwa AS telah berusaha untuk menempatkan stabilitas di depan demokrasi selama selama enam puluh tahun," tambahnya.

Akuetteh menyebutkan bahwa Sekretaris Pers Gedung Putih Robert Gibbs "berbicara di kedua sisi menyamakan demonstran dan pemerintah."

Seperti yang ia katakan itu, penyebaran secara cepat kerusuhan di Mesir adalah kejutan bagi semua orang.

"Tapi saya katakan lagi bahwa revolusi adalah sangat sulit untuk diprediksi. Kami memiliki banyak contoh dari sekutu Amerika yang mengira mereka bisa bertahan dan kemudian akhirnya hilang," pungkasnya.

Kementerian Dalam Negeri Mesir telah memperingatkan akan ada langkah-langkah yang menentukan terhadap unjuk rasa anti-pemerintah yang telah berubah menjadi pemberontakan terbesar sejak Presiden Hosni Mubarak berkuasa selama tiga dekade.

Presiden AS Barack Obama meminta Mubarak pada hari Kamis kemarin untuk membuat reformasi di Mesir, sembari meningkatkan tekanan pada sekutu utama AS itu. Namun, seorang menteri Israel mengatakan pemerintah Mesir harus menggunakan kekuatan militer untuk mengendalikan unjuk rasa publik.

Menurut kelompok oposisi, polisi anti huru hara Mesir menumpas para pengunjuk rasa anti-pemerintah, menewaskan sedikitnya sembilan orang dan menahan hinggai 1.200 aktivis dalam tiga hari terakhir unjuk rasa.(fq/prtv)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/analisi-revolusi-mesir-sulit-diprediksi.htm

Mesir: Pertarungan Militer Melawan Demonstran

"Muslim dan Kristen Mesir, semua keluar berperang melawan rezim yang korup, yang menindas, yang menghancurkan kebebasan, dan menciptakan pengangguran", sebuah pernyataan yang ditandatangani 70.000 orang.

Kantor berita Assosiated Pres, mengabarkan kekuatan pasukan khusus kontra teroris digelar di sekitar Cairo, dan Menteri Dalam Negeri, memperingatakan, akan memerintahkan penggunaan kekuatan pasukan khusus itu.

Essam el-Erian, juru bicara Ikhwanul Muslimin, memperingatkan rezim Mubarak, konsekwensi kekerasan yang dilakukan pemerintah, justru akan menghancurkan pemerintah, dan aksi protes tidak akan pernah berhenti. "Aksi ini akan terus berlanjut, bukan hari Jum'at ini, di hari-hari lainnya akan berlanjut", ujar el Erian.

Jutaan orang berkumpul di masjid-masjid di seantero Cairo, menjelang shalat Jum'at, dan mereka akan melakukan aksi menjatuhkan Mubarak. Usai shalat Jum'at pecah aksi massa menghadapi pasukan militer Mesir. Mereka menggunakan bom molotov, dan bentrok dengan aparat keamanan tak dapat dihindarkan.

Di Suez, serta di pusat perbelanjaaan Giza pasukan keamanan berhadapan dengan massa, dan polisi menembakkan gas air mata. "Ini adalah revolusi", ujar seorang anak remaja yang berumur 16 tahun, dan menambahkan, "Setiap hari saya akan datang ke tempat ini", ujarnya. (mn/aljz)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/mesir-pertarungan-militer-melawan-demosntran.htm

Demonstran Mesir Bentrok dengan Polisi Usai Shalat Jumat

Ribuan demonstran anti-pemerintah Mesir Jumat ini (29/1) bentrok dengan polisi di Kairo, yang menembakkan peluru karet ke kerumunan mass dan menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan mereka.

Polisi juga menggunakan meriam air terhadap pemimpin pro-demokrasi Mohamed ElBaradei Mesir dan para pendukungnya saat mereka bergabung dengan gelombang unjuk rasa terbaru setelah shalat Jumat. Polisi bersenjata dengan tongkat memukul beberapa pendukung ElBaradei, yang mengelili dirinya untuk melindungi.

Polisi anti huru hara dengan helm dan perisai ditempatkan di sekitar kota, di pintu masuk jembatan Sungai Nil dan persimpangan kunci lainnya. Dekat pusat kota utama Tahrir Square, ratusan polisi anti huru hara berkumpul bersama-sama, mengantisipasi kedatangan ribuan demonstran.

Di alun-alun Ramsis di jantung kota, ribuan demonstran bentrok dengan polisi saat mereka meninggalkan masjid al-Nur setelah usai shalat. Polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet. Beberapa gas air mata ditembakkan di dalam masjid, di mana wanita banyak berlindung.

Di kabupaten Mohandiseen, setidaknya 10.000 orang berbaris menuju pusat kota meneriakkan "turun, turun Mubarak."

Stasiun televisi regional melaporkan terjadi bentrokan antara ribuan demonstran dan polisi di beberapa kota-kota lain Mesir utama, termasuk kota pelabuhan Mediterania Alexandria, Minya dan selatan Assiut Kairo dan al-Arish di Semenanjung Sinai. (fq/ap)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/demonstran-mesir-bentrok-dengan-polisi-usai-shalat-jumat.htm

Kamis, 27 Januari 2011

Hari Ketiga Kerusuhan di Mesir, Total Tewas Mencapai 6 Orang

Setidaknya enam orang, empat pengunjuk rasa dan dua polisi, telah tewas di Mesir, pada saat unjuk rasa yang belum pernah terjadi sebelumnya menentang kekuasaan 30 tahun Presiden Mesir Hosni Mubarak memasuki hari ketiga.

Bentrokan telah dilaporkan terjadi antara demonstran anti-pemerintah dan polisi di ibukota Mesir, Kairo, pada dini hari Kamis ini (27/1), Reuters melaporkan.
Para aktivis mencoba bermain kucing dan tikus dengan polisi di jalanan di saat kerusuhan di Mesir terus mendapatkan momentum.

Unjuk rasa, yang diilhami oleh pemberontakan rakyat di Tunisia, telah melihat tembakan peluru karet polisi dan gas air mata ke arah demonstran, dan demonstran membalas dengan melemparkan batu dan bom bensin ke arah polisi.

Di Kairo pusat pada hari Rabu kemarin, demonstran membakar ban dan melemparkan batu kepada polisi. D Suez, pengunjuk rasa membakar gedung pemerintah.
Menurut saksi mata, polisi Mesir menyeret, memukul dan mendorong para pengunjuk rasa masuk ke dalam van polisi.

Para demonstran telah berjanji untuk mengadakan demonstrasi yang lebih besar pada hari Jumat besok, setelah shalat Jumat selesai.

"Muslim Mesir dan Kristen akan keluar untuk melawan korupsi, penindasan pengangguran, dan tidak adanya kebebasan," tulis seorang aktivis pada halaman Facebook.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan Rabu kemarin bahwa 500 orang telah ditangkap, namun menurut sebuah koalisi independen pengacara, setidaknya 1.200 telah ditahan.
Tokoh tokoh oposisi Mohamed ElBaradei, yang tinggal di Wina, diperkirakan akan kembali ke Mesir pada hari Kamis ini.

ElBaradei adalah Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dari bulan Desember 1997 sampai November 2009.

ElBaradei dan IAEA bersama-sama dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2005. (fq/prtv)

Sumber :http://www.eramuslim.com/berita/dunia/hari-ketiga-kerusuhan-di-mesir-total-tewas-mencapai-6-orang.htm

Oposisi Mesir Tuntut Mubarak Bubarkan Parlemen

Gerakan oposisi terbesar di Mesir, Persaudaraan Muslim (Ikhwanul Muslimin), menuntut agar Presiden Hosni Mubarak membubarkan parlemen yang baru terpilih negara tersebut dan mengadakan pemilu baru, tuntutan yang tampaknya mirip dengan tuntutan akan perubahan yang dicetuskan oleh gerakan rakyat Tunisia.

Dalam pernyataan yang dimuat dalam situs internet hari Rabu, Ikhwanul Muslimin menyebut pergolakan Tunisia adalah pelopor bagi dunia Arab dan Islam. Menurut pernyataan itu, pergolakan tersebut mengirim pesan kepada semua pemimpin diktator dan rejim yang korup bahwa mereka tidak aman.

Organisasi Islamis tersebut menyerukan pengakhiran undang-undang darurat yang sudah berlaku 30 tahun di Mesir yang melarang rapat-rapat umum politik dan menuntut amandemen besar-besaran undang-undang dasar untuk memungkinkan pemilihan presiden yang bebas dan adil.

Persaudaraan juga mendesak pemerintah Mesir agar menumpas korupsi dan mengadili pejabat-pejabat yang korupsi, dan memperingatkan bahwa kalau pemerintah tidak bertindak dengan cepat, kestabilan mungkin tidak akan berlangsung lama.

Organisasi itu gagal memenangkan satu kursi-pun dalam pemilu tahun lalu setelah merebut 20 persen kursi parlemen 5 tahun sebelumnya. Ikhwanul Muslimin -- yang dilarang tetapi mengajukan calon-calonnya sebagai independen – dan partai-partai oposisi lain mengatakan pemilu itu dicurangi.

Semoga keridhaan Allah menyertai kita semua.

Sumber : http://www.voanews.com/indonesian/news/Oposisi-Mesir-Tuntut-Mubarak-Bubarkan-Parlemen-114264074.html

Counter :

HTML hit counter - Quick-counter.net